Jumat, 30 Maret 2018

Gadai nyawa di negeri orang


Hukuman pancung bagi Zaini Misrin bisa jadi bukanlah yang terakhir. Masih ada deretan nama buruh migran yang terancam hukuman mati. Salah satunya Tuti. Sang ibunda
Iti Sarniti menceritakan duka dan gelisahnya pada Najwa Shihab.

"Tahun 2010, Tuti dan saya berangkat ke Arab Saudi. Kontraknya 2 tahun. 3 bulan di sana masih bisa komunikasi. Setelah itu tidak ada lagi komunikasi. Saya tidak percaya Tuti bisa membunuh. Dia anaknya pendiam."

"Katanya, Tuti membunuh majikannya yang sudah tua di Arab Saudi," cerita Iti sambil menangis di hadapan Najwa Shihab.

Iti harus bolak balik ke Jakarta selama 2 tahun untuk mencari kejelasan atas kasus Tuti di Arab Saudi. "Tahun 2012, saya berangkat ke Arab Saudi dibiayai oleh pemerintah. Saya sudah bertemu dengan Tuti di penjara. Tuti menceritakan bahwa ia dirayu untuk melakukan hubungan seksual dengan majikan laki-lakinya yang sudah tua, dan Tuti mendorong majikannya karena membela diri," papar Iti sambil menahan tangis.

Hariyanto, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia yang mendampingi Iti menambahkan, "Tuti mendapat pelecehan seksual dari 9 orang laki-laki di tengah pelariannya menuju Mekkah, kami menuntut keadilan hukum atas peristiwa yang menimpa Tuti ini."

Zaini Misrin, buruh migran asal Bangkalan, dihukum pancung di Arab Saudi. Keluarga kaget karena hukuman tersebut dilakukan tanpa pengumuman resmi pemerintah Arab Saudi. Kedua anak Zaini sudah hadir di panggung Mata Najwa, Saiful Toriq dan Mustofa Kurniawan.

"Satu hari sebelum eksekusi, Abah menelepon tidak menceritakan akan dihukum. Ia  menanyakan kabar," kata Saiful.

"Saya pernah bertemu Abah saat tahun 2013 dan 2015, Abah sehat," kata Syaiful.

Sementara Mustofa hanya 4 kali berjumpa dengan Zaini Misrin sepanjang hidupnya.

Toriq menceritakan bagaimana Zaini memperoleh tindak kekerasan oleh para polisi di penjara, supaya mau mengaku melakukan pembunuhan majikannya. "Abah dipukul pakai kayu, dicambuk, dipaksa, disuruh mengaku. Abah tidak tahu sama sekali penyebab tewas majikannya. Abah di sana bekerja sebagai sopir."

Wahyu Susilo, Direktur Eksekutif Migrant Care mengatakan, pemerintah baru mengetahui kasus ini pada 2008. "Saat persidangan berlangsung, Zaini tidak didampingi oleh pengacara, translatornya pun dari kepolisian yang memaksa Zaini mengakui perbuatan membunuh majikannya," ungkap Wahyu.

Vonis hukuman mati sudah dijatuhkan di pengadilan, sehingga fakta-fakta baru terkait kasus ini tidak bisa menjadi bukti baru.

Kepada Najwa Shihab, Mustofa menunjukkan foto Zaini yang diambil dari handphone yang ia sembunyikan di kasur penjara. Bahkan saat berada di penjara, Zaini juga masih mengirimkan uang untuk membiayai kehidupan anak-anak di Indonesia.

Kekhawatiran Saiful Toriq dan Mustofa kini tertumpu pada ibu mereka setelah ayahnya tewas dihukum pancung. Sang ibu, menurut kedua anaknya, mengaku dirayu majikannya. Padahal kontrak kerja di Arab Saudi baru dijalani dua bulan dari tiga tahun yang disetujui, sehingga sang ibu pun tidak bisa pulang.

"Dalam suasana sedih, tak ada yang bisa saya perbuat selain mendoakan supaya Abah saya tenang di alam sana, mungkin sudah menjadi takdir Abah, ajalnya di tangan algojo Arab Saudi.

Meski sudah melalui perjuangan panjang selama 14 tahun mencari keadilan itu hanya sebatas mimpi Abah.

Abah sempat bilang “Nak kita akan kumpul di Madura” ini yang membuat saya sedih dan terpukul ternyata mimpi itu kandas dan bahkan jenazah Abah pun tak bisa pulang ke Madura.

Saya berharap kepada pemerintah semoga apa yang terjadi kepada Abah saya tidak terjadi lagi buat TKI-TKI yang lain. Semoga yang menimpa saya tidak terjadi pada anak-anak Indonesia lain, " surat Mustofa Kurniawan, putra Zaini Misrin yang dihukum pancung di Arab Saudi bagi Presiden Jokowi.

"Saya minta ke Presiden, supaya saya bisa bertemu dengan keluarga majikannya Tuti. Saya mau sujud memohon maaf agar keluarga mereka memaafkan Tuti. Tolong bantu saya. Tuti anak pertama saya. Dia tidak banyak bicara, kalau saya tidak tanya dia tidak cerita. Saya minta anak saya dibebaskan saya mohon doanya dari semua," derai air mata Iti Sarniti-ibunda Tuti, buruh migran yang divonis hukuman mati.

Adelina Sau tewas di rumah sakit setelah disiksa majikannya di Malaysia. Ibunda Adelina, Yohana Banunaek dan Juru Bicara Keluarga Adelina, Amrosius Ku, hadir di Mata Najwa melalui perjalanan jauh dari NTT. Mereka harus naik motor, mobil bak terbuka dan bus untuk sampai ke bandara Kupang dan diterbangkan tim Mata Najwa ke Jakarta.

Mereka bersedia berbagi cerita duka dengan harapan tak ada lagi warga NTT yang jadi korban seperti Adelina. Adelina bekerja ke Malaysia saat ia berusia 15 tahun. Ia diajak oleh calo bernama Martinus yang kini sudah diciduk polisi.

"Setelah 1 tahun pulang dengan selamat dari Malaysia, namun hanya membawa uang Rp 3 juta. Dia juga pulang tidak punya paspor,"Juru Bicara Keluarga Adelina, Amrosius Ku.

Ibunda Adelina sempat melarang saat Adelina akan berangkat lagi bekerja di Malaysia, "Karena Adelina baru pulang dari Malaysia.

"Saat Adelina pergi, calo yang menjemput Adelina memberikan Yohana uang Rp 200.000 dengan tujuan Yohana mengizinkan Adelina pergi. Namun Yohana tidak tahu ketika akhirnya Adelina berangkat lagi.

Adelina masih di bawah umur untuk bekerja di luar negeri. Hal ini menyisakan pertanyaan, benarkah Adelina jadi korban penjualan manusia?

Kasus meninggalnya Adelina, buruh migran asal NTT, di tangan majikan di Malaysia menguak kembali dugaan bisnis perdagangan manusia.

Keluarga sempat tak percaya saat mendapat kabar Adelina meninggal dunia di Malaysia, "Nama marga di paspor Adelina berbeda dengan marga keluarga, hingga akhirnya polisi datang ke rumah dengan membawa foto Adelina."

Keluarga sampai sekarang tidak mengetahui kesalahan Adelina. Namun, keluarga sudah mengetahui kasus Adelina masih bergulir di Malaysia dan Indonesia.

Wahyu Susilo dari Migrant Care memaparkan human trafficking marak terjadi di NTT. "Kasus Adelina termasuk human trafficking, paspor Adelina dibuat di Blitar."

Menurut Wahyu, ada sindikat human trafficking di Medan, Blitar, Atambua yang perlu diungkap.

"Birokrasi yang terlibat. Ada Kepala Disnaker Kupang yang tertangkap memalsukan dokumen," papar Wahyu

Tudingan Migrant Care langsung dijawab oleh Dirjen Pembinaan Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Kemenaker, Maruli A. Hasoloan,

"Tata kelola di dalam negeri, kita membangun kegiatan di desa sebagai upaya mencegah kasus human trafficking."

Harapan agar pemerintah membuka lapangan pekerjaan yang banyak dan baik serta tidak ada Adelina lainnya yang menjadi korban, disampaikan keluarga Adelina di panggung Mata Najwa.

Satu kalimat akhir disampaikan Ibunda Adelina, "Mama masih ingat Adelina."

Dan semua pun tercekat..

Satinah, mantan buruh migran terbebas dari hukuman pancung di Arab Saudi. Uang diyat sebanyak Rp 21 miliar menyelamatkan nyawa Satinah. Fakta pun terkuak, Satinah kerap mendapat penyiksaan di penjara.

"Alhamdulillah saya sudah lebih baik, sekarang saya pakai tongkat tidak lagi pakai kursi roda,"

"Saya tidak ada kegiatan, tangan saya sakit, hanya bersih-bersih rumah, masak masakan kesukaan,"

Satinah sudah 3 kali berangkat ke Arab Saudi.

"Majikan saya galak. Saya sering dipukul, saya pernah dipukul pakai penggaris besi. Saya emosi dan saya pukul majikan saya, dia terkapar tidak bernapas."

Satinah kabur dari rumah majikan, namun bertemu polisi di jalan. Ia pun tertangkap dengan membawa tas majikannya yang ternyata salah ia bawa saat keluar rumah.

Polisi membawa Satinah kembali ke rumah, dan meminta Satinah untuk memeragakan cara Satinah memukul si majikan.

Satinah lalu dipenjara. Saat itu, ia tidak bisa memberi kabar ke pihak keluarga. "Saya tidak bisa komunikasi dengan keluarga. Jadi ketika KBRI berkunjung ke penjara, saya meminta tolong untuk mengirimkan surat kepada keluarga." Satinah.

Lepas dari hukuman pancung di Arab Saudi, Satinah menceritakan pengalamannya 8 tahun dipenjara.

"Saya tertekan, saya dipaksa mengakui memiliki hubungan dengan sopir si majikan,"

Saya juga kerja di penjara supaya ada pemasukan untuk anak saya. Menyapu, mengantarkan makanan, saya bisa menjahit saya buat tas. Saya dibolehkan bekerja di penjara."

"Saya titipkan uang dan emas untuk anak saya kepada teman yang mau pulang ke Indonesia, tapi emasnya tidak pernah sampai. Mungkin itu bukan rejeki saya," ujar Satinah

Uang diyat dibayarkan oleh pemerintah dan sumbangan hingga terkumpul rp 21 miliar. "Saya bersyukur saya bisa selamat," kata Satinah.

"178 WNI terancam hukuman mati di luar negeri," ungkap Wahyu Susilo Direktur Eksekutif Migrant Care.

"Pemerintah harus cermat mendalami perjalanan kasusnya. Supaya pemerintah tidak keliru mengambil langkah," tegas Wahyu.


Menutup Mata Najwa "Gadai Nyawa di Negeri Orang" inilah Catatan Najwa


Yang terindah ialah kerja di tanah sendiri, dekat dengan tanah kelahiran dan handai taulan.
Tak dihisap sunyi senyap tanah asing, apalagi ditindas sampai menjengking.
Namun hidup sering tak memberi pilihan, tumpah darah kerap gagal penuhi harapan.
Terpaksa jauh merantau demi masa depan, menyambung nasib untuk keluarga di kampung halaman.
Dengan bekal yang seringkali pas-pasan, mengambil risiko pergi ke negeri seberang.
Triliunan devisa datang dari keringat TKI, memberi makan dan penghidupan jutaan famili.
Mereka bukanlah warga kelas dua, bukan pula budak untuk disiksa.
Jika negara belum mensejahterakan negeri sendiri, tolong lindungi pekerja migran dengan sepenuh hati.

Semoga tak ada lagi nyawa pekerja kita yang tersia-sia, jangan sampai keluarganya bertanya: di manakah negara?

Sabtu, 17 Maret 2018

SIAPA BERANI JADI PRESIDEN

Rizal Ramli, Lagi dan Lagi Deklarasi Capres
Poros ketiga mencuat dalam bursa calon presiden, mencari nama di luar Jokowi dan Prabowo. Walau hingga kini baru Jokowi yang resmi nyatakan akan berlaga lagi. Sejumlah tokoh menilai situasi politik masih cair dan memberanikan diri masuk dalam bursa calon presiden.
Salah satunya Rizal Ramli. Ia hattrick mencalonkan diri jadi Presiden. Tiga kali "nyapres" apa sebenarnya yang mendorong mantan Menko Kemaritiman ini maju?
"Hobi atau bagaimana, Pak?" tanya Mata Najwa.
"Saya ingin mewujudkan pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 10 persen!" kata Rizal Ramli.
 Dikenal dengan jurus kepretnya, Rizal Ramli juga menyatakan, "Indonesia ini banyak tikusnya, harus dikepret."
Lalu bagaimana dengan fakta Rizal Ramli yang belum memiliki partai untuk maju sebagai capres? Bagaimana sebetulnya modal politik Rizal Ramli sehingga percaya diri sudah mendeklarasikan diri sebagai capres?
Menurut Rustika Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, ada 26 ribu twit dalam 3 bulan terakhir yang mendukung Rizal di media sosial. Namun, Rizal harus dapat meningkatkan lagi sentimen netizen yang ia miliki.

Modal Rizal Ramli Jadi Capres
Mantan Menko Kemaritiman, Rizal Ramli tak menjawab blak-blakan soal modal uang yang ia siapkan untuk maju jadi Presiden, "Cek saja di KPK." Kemudian Mata Najwa menunjukkan LHKPN Rizal yang ternyata dinilai tak memadai, apalagi Rizal Ramli juga tak punya dukungan partai politik.
Rizal mengatakan gaya "rajawali ngepret" bisa jadi modal, "Lihat Donald Trump di Amerika, lihat Duterte di Filipina, yang penting kebijakannya."
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi, mengatakan elektabilitas tinggi bisa membuat seseorang menjadi presiden. "Sayangnya, Bang Rizal tingkat keterkenalan masih kurang, dengan deklarasi capres mungkin saja elektabilitas akan naik."
Mata Najwa kemudian memperlihatkan 2 foto, Joko Widodo dan Prabowo. Siapa yang dinilai Rizal Ramli sebagai lawan berat? "Keduanya teman saya, Presiden Jokowi orangnya baik, tidak neko-neko,"
kata Rizal Ramli.
Rizal juga membantah jika ia selalu mengkritik pemerintahan Jokowi-JK. "Yang saya kritik itu kebijakannya."
Lalu bagaimana tanggapan Rizal terhadap Prabowo Subianto?

Cak Imin : Kalau Tak Pilih Saya, Jokowi Bisa Kalah.
Mata Najwa menantang Cak Imin, "Berani ga jadi capres?"
Cak Imin menjawab, "Kalau lihat jaket merahnya, Saya berani jadi capres."
Jawaban Cak Imin langsung mendapat tanggapan riuh dari penonton di studio."
Cak Imin lalu menuturkan kelebihan-kelebihan dirinya, "Saya ini aktivis, saya di dunia politik tidak datang tiba-tiba. Bahkan saya ibarat pesawat, pernah di eksekutif dan legislatif, sudah lengkap."
"Jadi rugi kalau tidak mengajak anda?" tanya Mata Najwa. 
"Oh, tentu!" ucap Cak Imin dengan percaya diri.
"PKB ialah pendukung Pak Jokowi, harus ada tata krama, jangan sampai saya bersaing dengan Pak Jokowi." Inilah sebabnya Cak Imin masih mendeklarasikan diri sebagai cawapres bukan sebagai capres.
"Pak Jokowi kalau salah pilih cawapres bisa kalah, apalagi pilih nonpartai. Kalau memilih yang tepat, sudah ada partainya, bisa menang." blak-blakan Cak Imin. 
"Jadi Anda mengancam pak Jokowi untuk memilih Anda?" tanya Najwa  sambil tersenyum.

Cak Imin di Tengah Dua Pilihan Capres
"Saya ini Sukarnoisme dan Gusdurisme," jelas Cak Imin di panggung Mata Najwa.
"Ibarat pulau, baru ada 1 pulau yang ada. Satu-satunya capres yang sudah pasti ialah Pak Jokowi. Pak Prabowo katanya mau deklarasi, tapi sampai saat ini belum. Jadi satu pulau yang pasti ialah Pak Jokowi," kata Muhaimin Iskandar, Ketua Umum PKB.
Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi menilai pernyataan Cak Imin, "Tantangan pertama akan datang dari partai-partai pendukung pak Jokowi. Kalau Pak Jokowi pilih Cak Imin bisa jadi karpet merah untuk jadi Capres 2024. Apa yang dilakukan ini meningkatkan kegairahan di pemilih PKB."
Pertanyaan berikutnya, baliho Cak Imin terpasang di berbagai penjuru, modalnya dari mana? "Pasang baliho di jalan Gatot Subroto saja, misalnya, per bulan Rp 600 juta lho, Cak!" kata Mata Najwa. 
Pengakuan Cak Imin, modal maju sebagai capres banyak dibantu oleh teman-teman lokal, anggota DPR, Bupati. "Uang untuk pasang baliho itu uang halal."
Sudahkah modal yang dikeluarkan ini membuat Cak Imin populer?
"Netizen pendukung cak Imin juga aktif sekali di twitter," kata Rustika Herlambang. "Sentimen negatif ditujukan ke Cak Imin hanya 4-5%. Sepanjang saya meneliti para figur di Indonesia, ini adalah sentimen negatif terendah." Lebih lanjut Rustika menjabarkan adanya robot di antara akun-akun yang mencuit soal Cak Imin.

Radar Gatot Nurmantyo
"Apabila rakyat dan negara memanggil, mati pun saya rela. Saat ini saya masih prajurit, tetapi apabila rakyat menghendaki setelah saya pensiun, saya siap!" tegas Mantan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo di meja Mata Najwa.
Mata Najwa bertanya, "Bagaimana cara mengukur rakyat menghendaki itu?"
"Ada beberapa, misalkan alat survei tapi tergantung saya putuskan nanti," ucap Gatot.
Lalu apakah Gatot Nurmantyo masih lekat di benak publik setelah lengser dari kursi Panglima TNI?
"Di media online di tahun 2017, Gatot ialah media darling, ketika menjadi Panglima TNI. Tapi setelah lengser menurun drastis dan di media sosial emosi netizen menanti langkah Pak Gatot selanjutnya, termasuk mendapat label sebagai Jenderal Religius," jelas Rustika Herlambang, Direktur Komunikasi Indonesia Indicator
Mata Najwa bertanya soal jenderal religius yang gemar safari ke pesantren," Tidak apa-apa jenderal aktif safari ke mana-mana?"
Dijawab Gatot Nurmantyo, "Tidak masalah. Tak harus izin. Intinya saya tidak rela bangsa ini diadu. Oleh karena itu saya rutin ke pesantren-pesantren untuk merekatkan," jelas Gatot Nurmantyo.

Manuver Politik Jendral Gatot Nurmantyo
"Jika Prabowo Subianto tidak maju dalam Pemilihan Presiden 2019, ada kemungkinan orang akan pilih Gatot Nurmantyo" inilah hasil survei yang disampaikan Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi. "Orang-orang yang memilih Gatot, dulunya di tahun 2014 memilih Prabowo," lanjut Burhanuddin.
Safari mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo jadi sorotan. Namun Gatot membantah telah melakukan manuver politik dengan safari ke pesantren, "Satukan hati untuk Indonesia adalah slogan untuk menyatukan bangsa Indonesia, agar bangsa ini aman."
Lalu mengapa harus safari ke pesantren? 
Direktur Eksekutif Indikator Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai, "Kenapa narasinya soal Islam? Kalau lihat ke belakang kelompok Muslim kehilangan tokoh setelah Gus Dur wafat. Jenderal Gatot masuk di sini. Orang tidak bisa disalahkan jika Jenderal Gatot ingin meningkatkan elektabilitas, karena ia ada di papan tengah, di bawah Jokowi dan Prabowo."
Gatot : Tak Berpolitik Praktis Hingga Pensiun
Mata Najwa menemui kelompok Selendang Putih Nusantara yang mendeklarasikan diri sebagai relawan Gatot Nurmantyo. Namun Gatot mengaku tak mengenal Selendang Putih Nusantara, "Mereka hebat, mereka bergerak tanpa mengenal saya. Saya bangga dengan mereka."
Gatot tidak keberatan dengan keberadaan relawan tersebut, bahkan saat Mata Najwa menyampaikan relawan sudah menemui partai politik, "Politik itu cair, jadi silakan saja."
"Saya masih prajurit, 2 minggu lagi kita lihat nanti!" tegas Gatot
"Itu sudah kode-kode keras" jawab Mata Najwa.
Mata Najwa menanyakan pendapat Gatot soal Jokowi dan Prabowo, namun Gatot bersikeras tidak akan berpolitik praktis hingga ia pensiun 2 minggu lagi.
Menutup Mata Najwa "Siapa Berani Jadi Presiden", inilah Catatan Najwa.
Presiden bisa mensosialisasikan diri kapan saja, keliling Indonesia sambil bekerja di mana-mana.
Wajar jika tak mudah mengalahkan petahana, penguasa punya akses ke berbagai sumber daya.
Namun politik tidak sesederhana menghitung angka, satu tambah satu bisa saja menjadi tiga.
Langkah-langkah strategis masih banyak disimpan, menunggu untuk dibuka di akhir tikungan.
Segala kemungkinan masih terbuka, entah berupa blunder petahana, hingga munculnya poros ketiga.
Inilah nikmatnya hidup di alam demokrasi, berbagai manuver tak bisa dijegal sekehendak hati.
Biarkan seluruh rakyat menyimak lebih dulu, mendengar ragam visi dan ide tanpa pandang bulu.
Mesti ada ruang bagi sebanyak mungkin kandidat, partai jangan lekas-lekas menutup tenggat.
Rakyat berhak disodori sebanyak mungkin pilihan, Pemilu bukan untuk mengulang perseteruan sampai bosan.

Jumat, 09 Maret 2018

GELANGGANG TINJU JOKOWI

Segmen 1
Tudingan pertemuan politik di istana hingga tuduhan alat negara digunakan untuk mengamankan kepentingan politik pilpres. Pro kontra pencapaian kinerja pemerintah, sampai penangkapan pelaku penyebar hoax yang belakangan dituding menyerang pemerintah.
Di meja Mata Najwa, para narasumber bertarung pendapat soal pengungkapan Muslim Cyber Army. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko tegas menjelaskan penangkapan anggota-anggota Muslim Cyber Army merupakan ketegasan penegakan hukum atas mereka yang berusaha memecah belah bangsa melalui provokasi hoax berbau SARA dan politik.
Segmen 2
“Ini karena semua pada baper (bawa perasaan)!” demikian sindir Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko soal kritik pertemuan Presiden Jokowi dengan partai-partai baru di kompleks Istana Kepresidenan. Partai pendukung pemerintah, Nasdem dan PDI Perjuangan pun menilai pertemuan Presiden dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang kemudian diikuti pertemuan dengan Perindo, sebagai hal biasa saja. 
Riza Patria pun angkat bicara. Ketua DPP Partai Gerindra ini menyatakan pertemuan Presiden Jokowi dengan Prabowo hal berbeda dan tak dapat dibandingkan dengan pertemuan Presiden Jokowi dengan PSI.
Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, “ Ini jelas offside!” Pernyataan ini disambut Ketua DPP PDI Perjuangan Komarudin Watubun, “ Offside menurut partai oposisi. Jadi kalau Pak Mardani mau ke istana tak apa-apa, jangan malu-malu.”

Segmen 3

“Seberapa fit jagoan Anda?” Mata Najwa membuka pembahasan soal rapor kinerja pemerintahan Jokowi. PDI Perjuangan dan Partai Nasdem juga diberi kesempatan terlebih dulu untuk memaparkan rapor pemerintahan Jokowi. Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera, “Pemerintah sedang membangun istana pasir.”
Penegakan pemberantasan korupsi, terkatung-katungnya kasus Novel, impor beras, pertumbuhan ekonomi, hingga dukungan bagi perdamaian Afghanistan yang dilakukan melalui lawatan Presiden ke Afghanistan.

Segmen 4
Direktur Eksekutif M. Qodari menyatakan kepuasan publik terhadap pemerintahan Jokowi seharusnya bisa lebih tinggi. Ia membandingkan dengan survei kepuasan publik pemerintahan SBY jelang pilpres dahulu yang bisa mencapai kisaran 80 persen.
Jokowi resmi sudah mendeklarasikan diri maju di Pilpres 2019. Bagaimana dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto? Apa yang membuat Prabowo belum mendeklarasikan diri maju di Pilpres 2019? Tiga kali Mata Najwa bertanya pada Ketua DPP Gerindra Riza Patria mengenai hal ini.
Akhirnya Riza Patria menjawab, “Pasti maju. 1.000 persen pasti maju dan pasti menang.” 


Segmen 5
Sejumlah tokoh disebut-sebut layak mendampingi Jokowi sebagai cawapres di Pemilu 2019. Salah satunya Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Apa tanggapan Moeldoko? Begini katanya, “Saya lebih memilih untuk pintar merasa daripada merasa pintar.” 
Menyambung pembicaraan bursa cawapres, menurut Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari sejauh ini ada sejumlah nama yang masuk radar survei cawapres Pemilu 2019 seperti Anies Baswedan, Agus Yudhoyono, Gatot Nurmantyo, dan Ridwan Kamil.

Segmen 6
Mata Najwa menantangnya, “Siapa teman-teman partai yang datang ke Gerindra? Saya langsung konfirmasi pada PDI Perjuangan dan Nasdem di sini ya.” Serta merta ini dijawab oleh Sekjen Partai Nasdem Johnny G. Plate, “ Jangan-jangan itu obrolan warung kopi yang ditanggapi serius.”